Pages

Showing posts with label Travelling. Show all posts
Showing posts with label Travelling. Show all posts

Sunday, 6 March 2016

[Review] Saphaipae Hostel Bangkok


Akhirnya~ bikin review juga perjalanan ke Bangkok.. tahun lalu. Muehehe. Lebih baik terlambat lah ya daripada ga sama sekali. Mudah-mudahan aja review-an telat ini tetep bisa bermanfaat buat kalian yah :B

Jadi sebelum berangkat ke Bangkok, saya jadi gila browsing buat perencanaan yang seasik mungkin, baik buat bikin itinerary maupun cari tempat tinggal. Berdasarkan hasil browsing sana sini dan membandingkan sekitar 30 akomodasi di Bangkok, akhirnya saya dan teman-teman memutuskan tinggal di Saphaipae Bangkok. Pilihan ini juga setelah mempertimbangkan beberapa rekomendasi yang terpercaya, salah satunya Claudia Kaunang sebagai backpacker sekaligus penulis buku perjalanan.

Wednesday, 14 January 2015

Mendadak Piknik, Piknik Ceria!


Hari Sabtu lalu, pagi-pagi saya dibangunkan oleh nada dering handphone yang saya pikir alarm karena salah setting. Mata setengah terbuka, tangan sudah siap snoozing alarm, sampai saya lihat muka Annissa nongol di layar. Out of no where, si teman ini tau-tau ngajakin piknik – hari ini, pagi ini juga! Nyawa saya yang masih belum kekumpul semua bikin makin terasa absurd dengan ajakan tiba-tiba ini. Yeah, mungkin ga tiba-tiba juga karena ini sebenernya rencana tahun lalu yang entah gimana akhirnya batal begitu saja. Dan pagi itu tau-tau rencana yang batal itu hidup lagi. Well, karena saya memang sudah lama pengen piknik bareng di taman, akhirnya saya iyakan ajakan piknik ini meskipun dadakannya pake banget. Untung aja tempat pikniknya ga jauh-jauh dari kost: di Taman Langsat.

Meskipun deket dan memang lewatan saya setiap berangkat kantor, pas akhirnya berangkat banyak dari kita – termasuk, ehem, saya – yang kesasar. Hahaha kita cuma sering denger namanya aja sih, belum pernahmain ke sini dan ga tau dimana pintu masuknya. Ternyata eh ternyata, kalau dari arah Blok M, pintu masuknya ada di belokan setelah Pasar Burung dan TPS Barito. Nah saya malah masuk dari seberang pintu samping Pasar Mayestik, which is ternyata bukan bagian untuk publik. Hahhaha.

However setelah tanya sana sini, sampai juga saya dan temen saya ke Taman Langsat. Di sana sudah ada 4 teman dan calon teman kami sudah ngobrol unyu di bawah pohon-pohon kelapa beralaskan taplak bunga-bunga penuh camilan. Jadi sih, piknik kita ini memang asal kumpul aja, nongkrong unyu ngobrol sana-sini sambil nyamil makanan yang di bawa masing-masing orang. Intinya sih, hangout non-ngemall bareng teman-teman :) Once in a while, ini bisa jadi rutinitas seru daripada terus-terusan nge-mall. Bisa ngobrol seru, makan-makan, foto-foto, nambah temen baru, suasana yang beda dengan pemandangan cakep beratapkan langit – yah, asal jangan hujan aja sih :p

teman, temannya teman, temannya temannya teman: semua kumpul :)

Taman Langsat oke juga buat piknik begini. Rindang, hijau, ga terlalu rame orang, tapi fasilitas tamannya lumayan. Di sini ternyata juga ada Ruang Serba Guna yang biasa dipakai buat acara nikahan dan semacamnya. Meski begini, tapi tetep waspada yah dan pinter-pinter pilih tempat, karena kemarin ranting pohon kelapa yang tua sempat jatuh tepat disamping kami. Phewh...

people swarming! ♥
Tapi overall, piknik ke taman itu tetep seru, termasuk Taman Langsat, apalagi buat yang udah bosen-gelinding-gelinding-parah sama mall. Someone says, “Picnic is more than eating, it’s pleasurable sate of mindAnd I absolutely, agree! ;)

Tuesday, 9 December 2014

Co Host for My Trip My Adventure to Sumba [Part 3]

the mysterious Weekuri Lake (this picture taken from here)


Cuaca hari kedua berubah cepat, cuaca panas berganti dengan awan mendung dan tiba-tiba hujan. Ini hari pertama turun hujan di sana. Pas banget kami lagi ngetrip begini. Tapi toh akhirnya kita tetap lanjut ke destinasi selanjutnya, Danau Weekuri. Perjalanan ga terlalu jauh dari tebing Pantai Mandorak, tapi medannya menantang banget, dan dengan Willys Jeep saat hujan begini sukses bikin kami menggigil kedinginan.

Perjalanan untuk sampai ke sini yang penuh perjuangan ga sia-sia. Danau Weekuri ini ternyata ga kalah keren. Dikelilingi pohon-pohon bakau yang hijau terlihat cantik sekaligus misterius, airnya jernih banget, bagian dasarnya sampai terlihat dari permukaan. Begitu sampai, bawaannya pengen langsung lari dan lompat ke danau. Tapi karena danaunya ga terlalu dalem, jadi kami cari aman dengan terjun santai macem di kolam renang. Hehe. Eh, begitu masuk ke dalam air, yang ada perasaan lega. Ternyata airnya ga dingin seperti yang kami bayangkan, cenderung hangat malah. Kami yang sudah menggigil kedinginan makin betah deh berenang-renang di danau. Menyenangkan! 

Meskipun sumber utama airnya datang dari laut, tapi rasa airnya payau, mungkin karena sudah tercampur dengan air hujan. Well, di sini pun saya ga lepas diusilin duo host ini. Heran, aadaa aja ide ngerjain orang. Satu hal yang bikin saya bersyukur, at least saya bisa berenang. Hhihi.. kan ngeri juga dikerjain di dalam danau begini tanpa kemampuan berenang. Ada saat saya mau bales ngerjain mereka, tapi rasanya ga ada yang berhasil. Saya terlalu ringan kayaknya buat mereka berdua, hheheu. Tapi dengan keusilan mereka setidaknya bikin saya ga awkward dan nyaman ngetrip bareng mereka.

Monday, 8 December 2014

Co Host for My Trip My Adventure to Sumba [Part 2]


Hari yang ditunggu-tunggu dengan cerah ceria tapi gugup setengah hidup datang juga. H+1 setelah ulang tahun saya, berangkatlah saya pagi-pagi buta ke Soetta Airport. Saya berangkat bareng PIC dari Advan dengan flight Jakarta – Bali jam 5.00 WIB. Dari Bali, kami melanjutkan perjalanan jam 12.00 WITA, full team dengan kru Trans Tv, termasuk 2 host MTMA, Vicky Nitinegoro dan Denny Sumargo. Dan akhirnya setelah perjalanan panjang, sampailah kami di Sumba Barat. Suasananya mengingatkan saya saat saya datang ke Dili, Timor Leste, 3 tahun lalu. Well, mungkin karena lokasinya yang berdekatan.


Sunset dari atas tebing Pantai Mandorak

Tujuan pertama kami adalah Pantai Mandorak di Sumba Barat Daya. Dari airport ke pantai ini cukup jauh, sekitar 2 jam perjalanan nyaris tanpa macet, berjarak sekitar 42 Km dari Tambolaka Ibukota Kabupaten Sumba Barat Daya. Melewati jalan berkelok-kelok di atas bukit, naik dan turun sampai akhirnya di suatu daerah yang semakin jarang terdapat rumah penduduk ataupun kendaraan bermotor, jauh dari kota dan keramaian, kanan kiri dipenuhi dengan ilalang dan tanpa lampu jalan, lebih banyak penduduk lokal yang berjalan kaki sambil menuntun kerbaunya pulang.

Sampai akhirnya kami tiba di salah satu tebing tinggi Pantai Mandorak. Tempat yang terkenal dengan pemandangan sunset-nya yang super. Dan terbukti, di sini keren banget sunset-nya, totally! Menikmati sunset dengan suara ombak air pasang yang bertabrakan dengan bebatuan dan tebing-tebing di sepanjang pantai, airnya yang jernih biru kehijauan, pasir putih, langit yang terasa luas dan tebing yang cantik. What a wonderful sight. Pantai Mandorak seperti surga kecil nyaris tak terjamah dibalik tebing :)

Akhirnya dimalam pertama, kami tinggal di salah satu rumah warga asing yang merupakan anggota foundation asing yang sudah cukup lama tinggal di Indonesia. Rumahnya merupakan bangunan dengan konsep rumah adat dengan beberapa modifikasi, menghadap kearah laut dengan teras kayu tanpa atap. Dan ternyata pemandangan dahsyat ga hanya saat sunset, pemandangan malamnya pun juga ga kalah memikat. Saya seperti berdiri dengan teropong bintang tak terlihat. Langitnya jernih, bintang-bintang bermunculan semakin jelas memenuhi seluruh lembaran langit malam. Percaya deh, ini-kece-banget! Saya ga akan berhenti bosan memandang langit malam di sini. Malam ini, serasa bangsa Na’vi dalam film Avatar, kami tidur di atas hammock yang ternyata nyaman juga untuk tidur hingga pagi datang.

Sunday, 7 December 2014

Co Host for My Trip My Adventure to Sumba [Part 1]


Suatu siang di kantor, tiba-tiba handphone saya memanggil-manggil. Setengah hati mau angkat telepon karena nomor Jakarta yang ga dikenal, tapi toh akhirnya saya angkat juga. Dan saat itu juga perasaan saya tiba-tiba seperti di bolak-balik. Ternyata itu telepon dari detik.com yang mengabarkan kalau saya masuk kandidat pemenang terakhir My Trip My Adventure Co-Host Hunt Season 2 dan dalam waktu satu jam saya diminta untuk mengirimkan video ala host My Trip My Adventure.

Oh. My. God. 

Oke, seneng, panik, grogi, ragu-ragu karena berbagai alasan yang ada saat itu. Tapi akhirnya saya buat juga video yang diminta. Diam-diam menyelinap keluar mencari ruang kosong – dan berakhir di salah satu toilet kantor yang syukur banget ternyata airnya lagi macet, jadi ga bakal ada yang masuk. Tanpa pengalaman jadi host apapun sebelumnya – paling juga jadi jadi mc buat meeting acara kantor .__. – dan bermodal temen kantor dan kamera hapenya, ah plus toilet kantor, akhirnya jadi juga videonya. Yippey! 

‘Beres, tinggal kirim’, pikir saya.

Tapi ternyata ga berhenti sampai situ tantangannya. Hak! Alamat email yang dijanjikan buat kirim videonya ga masuk, di email saya yang manapun dan folder apapun. Saya coba tanya ke twitter, facebook dan bahkan email redaksi detik.com ga ada jawaban. Sempet nyaris semacam mental breakdown (haha apa deh Sy, lebay!). Tapi karena ga mau usaha saya bikin video dan convert video yang ga bisa ke kirim via email karena ukurannya yang terlalu gede, akhirnya pake jurus ‘sebodo-amat’ akhirnya saya kirim videonya ke email redaksi dan admin detik.com. Dibaca atau ga, dilihat atau ga saya serahkan selanjutnya ke yang Maha Kuasa deh. Meskipun penasaran setengah mati, akhirnya toh saya pasrah aja. Kenyataan jadi kandidat 10 besar pemenang ke-4 dari ribuan pendaftar aja saya udah seneng, karena awalnya saya ngerasa banyak melakukan 'kebodohan' waktu daftar. Hhehe..

Tapi ternyata takdir berkata lain. Sore itu juga, saat saya baru aja menginjakkan kaki di kamar, salah satu kru Trans Tv mengabarkan saya kalau saya akhirnya terpilih jadi pemenang ke Sumba. 

Kayaknya perlu saya capslock: MENANG CO-HOST MY TRIP MY ADVENTURE KE SUMBA!
Yahoooo~! 

Udah pengen tereak sambil salto di tempat aja, tapi saya memilih menahan diri daripada nanti malah dianggep ga waras dan batal jadi pemenang. Tantangan selanjutnya, ijin cuti 3 hari saat H-3 juga butuh effort yang ga biasa. Dengan bantuan doa dari si mamah, temen-temen, juga dengan kekuatan bulan si Sailormoon, akhirnya saya dapet ijin juga. 

Huhu thanks a lot God. It feels like an early surprise birthday gift for me. Awesome! :'D

dengan 'semena-mena' saya malah pasang pas foto ala KTP, which is hal yang selalu saya hindarin --"

Wednesday, 18 June 2014

Roti Tissu dan Teh Tarik a-la Martabak Gapa Medan


Ini kali pertama saya benar-benar menginjakkan kaki di Medan. Sebelumnya saya hanya numpang transit beberapa jam di airport. Perjalanan kali ini bukan khusus untuk liburan, tapi karena pekerjaan yang membawa saya ke sini. Bagaimanapun, perjalanan ini tentu aja saya manfaatkan sebaik-baiknya.

Kebetulan salah satu teman baik saya, teman serumah, seangkatan, sejurusan waktu kuliah adalah orang Medan dan masih tinggal di Medan. Akhirnya, malam hari pertama di Medan, saya dibawa keliling di daerah pusat Kota Medan. mulai dari daerah-daerah bangunan bersejarah seperti Istana Maimun, Tjong A Fie Mansion, Masjid Raya Medan sampai ke beberapa tempat gaul anak Medan, salah satunya Merdeka Walk. Sayang banget, kecuali Merdeka Walk, kami cuma numpang lewat karena waktu yang sangat sempit. Hhehe.

Setelah berkeliling ke beberapa tempat, saya akhirnya dibawa ke salah satu tempat makan di kawasan Lapangan Merdeka, Martabak Gapa. Meskipun letaknya di pinggir jalan, gerai martabak ini hampir selalu ramai pengunjung, termasuk non-weekend seperti hari ini. Menjual menu khas Malaysia dan India, salah satu menu yang paling hits di sini adalah Roti Tissu (IDR 23k). 



Seperti namanya, roti yang berbahan dasar tepung, telur, susu dan mentega ini di panggang di atas wajan datar dan dibentangkan hingga ukurannya sangat lebar dan tipis seperti tissu. Begitu matang, secepat kilat bentangan roti tissu ini ditarik di bagian ujungnya hingga berbentuk kerucut dan di siram dengan susu kental manis cokelat dan taburan keju. Teknik pembuatannya yang unik dan ukurannya yang tinggi menjulang membuat siapapun jadi tertarik melihatnya. Apalagi buat foodism seperti saya, pengen cepet-cepet pesen, foto, makan, share! Hhehe. Berhubung minuman khas sini dan kebetulan juga salah satu kesukaan saya adalah Teh Tarik (IDR 10k), akhirnya saya pesan kopi hitam. Eh, Teh Tarik donk :p



Seperti yang terlihat, Roti Tissu-nya terasa renyah, manis dan sedikit asin karena taburan keju. Pada bagian-bagian tertentu, roti tissu ini ada yang terasa lebih tebal sehingga terasa kesan ‘roti’-nya. Dengan ukuran yang jumbo ini, saya memilih berbagi dengan teman saya. Tau-tau udah berasa kenyang, aja. Untuk Teh Tarik-nya sendiri, rasanya cukup unik dan agak pahit. Berbeda dengan Teh Tarik kebanyakan yang pernah saya coba. Karena pada dasarnya saya agak anti sama pahit, saya sih lebih suka Teh Tarik yang biasa saya minum aja deh. Hehehhe. Bukan berarti rasanya ga enak sih, ini masalah selera aja.


Location
Martabak Gapa
Jalan Perniagaan Ujung
(Depan Lapangan Merdeka)
Medan, Indonesia
Phone: 081375725151

Opening Hours 

Everyday 17:00 – 24:00 pm

Tuesday, 19 November 2013

Win a Trip to Korea!




hi Korean lovers~

Again and again, Korean Tourism Organization gives us a chance to win a family trip to Korea for up to 4 family members. This trip worth up to $6.000 for 5 total winners. Just take this chance and don't forget to pray! ;)

Wish us luck~ 

Saturday, 6 April 2013

3 Places in One Day Travelling at Cianjur

Situs Megalitikum Gunung Padang

Akhirnya bisa jalan-jalan menikmati Indonesia lagi. Perjalanan ini diawali dengan penemuan ga disengaja di salah satu website tour agent. Perjalanan ini ga pernah direncanakan sebelumnya, saya bahkan awalnya belum pernah mendengar tentang tempat wisata ini. Tapi setelah browsing sana sini tentang Gunung Padang, melihat tujuan yang ga terlalu jauh, cukup memakan waktu sehari, dan ga butuh biaya besar, akhirnya sekitar H-7, saya dan teman-teman memesan 4 seat terakhir yang tersisa.

Saturday, 20 October 2012

Menikmati Sajian Makanan & Layar Tancap di Warung Misbar

Picture belong to detik.com
Weekend ini saya sempatkan ke Bandung untuk memenuhi undangan pernikahan salah satu teman dari kantor lama saya. Setelah ke resepsi pernikahan, kami - saya membawa 2 teman saya Annissa dan Winda untuk menemani makan-makan :P – sempatkan berjalan-jalan. Ya, ga jauh-jauh sih, seperti biasa kami berjalan-jalan di daerah Jalan Riau dan sekitarnya yang sudah terkenal sebagai daerah tempat perbelanjaan dengan deretan FO (factory outlet), pertokoan, dan tempat-tempat makan.

Wednesday, 8 August 2012

First Step – Backpacking To Singapore (Day 1)


“Every journey starts with a single step.” – Confucius

That quote is one of my favorite quotes. It seems really simple, isn’t it? But when you think about it, you will realize that sometimes taking the first step is the toughest thing you do. Once you made the decision, it is easier because you are already moving forward.

In this case (of my story), it blow up my spirit to take my first step. Maybe some people say that it’s  a little ordinary step. Ignore it! Couse this little step may bring me (and bring us) to the next and bigger step. Fighting!
beri semangat
Full credit to blueeyednightowl

Well, saya memulai petualangan internasional backpacking ini di Singapura. Yah, bukan pure backpacking ala pro backpacker mungkin. Namanya juga newbie. Hhehe.. tersenyum lebar dan menurut banyak orang termasuk advance backpacker says kalau Singapura ini jadi salah satu negara tujuan yang oke buat newbie backpacker dari Asia Tenggara. Saya sendiri juga merasa seperti itu. Negara kecil ini memiliki sistem transportasi mantap, keamanan yang oke termasuk untuk solo backpacker, dan kita sudah (lumayan) bisa merasakan ‘suasana Luar Negeri’-nya hebat

Saya memulai perjalanan ini berdua teman saya, Rida. Kami ga memakai jasa tour travel atau semacamnya. Kami mengandalkan kemudahan fasilitas dunia modern: browsing, browsing, browsing, bisa via internet, buku, dan banyak media lainnya. Jangan pernah bosan deh melakukan hal ini. Kita bisa mendapatkan (hampir) semua yang kita mau, mulai dari urusan akomodasi, transport, lokasi tujuan, cerita pengalaman orang lain dan semua hal-hal detail lainnya.

Seperti biasa, perjalanan dari rumah menuju airport (Terminal 3 – Air Asia) menggunakan bus Damri dengan jadwal penerbangan pukul 18.50. Ternyata kalau long weekend seperti ini Terminal 3 saaangat ramai, dan antrian yang kayak ular ini cuma di International Gate. Kalau Domestic Gate, mau masuk sambil seluncur gaya kupu-kupu pake sepatu roda aja bisa kali ~(‾)~. Hehehe..

Monday, 6 August 2012

Perjalanan Singkat ke Bekasi


Awal weekend kemarin penuh rencana ga terduga, rencana yang ga terencana. Saya dan si mas weekend partner tau-tau ikut kereta ke Bekasi. Bukan buat liburan sih, tapi ke salah satu rumah sakit untuk MCU. Dengan bantuan GPS dan mulut *buat tanya-tanya :P* akhirnya sampe juga dengan selamat sentosa ke tempat tujuan. Untungnya perjalanan ini sama sekali ga ganggu puasa. Yah, agak seret dikit sih, tapi setelah ngadem di RS, ibarat hp, indikator baterai-nya langsung kembali terisi.

Baru pertama kali ini benar-benar ke Bekasi. Biasanya sih cuma numpang lewat, itupun via tol. Kali ini ‘berkunjung’ dari jakarta via KRL dari Stasiun Gubeng langsung turun ke Stasiun Bekasi. Kebetulan berdasarkan om GPS, Rumah Sakitnya ada di jalan yang sama dengan Stasiun Bekasi. Selama tinggal di Jakarta, baru kali ini naik KRL tersenyum lebar. Pertama kali masuk langsung keinget MRT di Spore, ehm, versi super humble-nya senang. Not so bad, termasuk kalau dibandingkan dengan Kereta Komuter di Surabaya dan sekitarnya. It’s a lot better. Hari ini sempat merasakan padat dan lengangnya KRL. Sempet padat sebentar karena banyak pengguna kereta yang transit ke arah Bogor. Setelah itu suasana cukup damai, begitu juga waktu pulang yang cenderung lebih sepi. Bisa duduk-duduk suka-suka hati lah. Hhehe.
 
Benar juga ternyata kata-kata bahwa sekarang yang macetnya gila ga cuma Jakarta, tapi tetangga sekitarnya juga sama. Begitu juga dengan Bekasi. Sampai di jalan Ir. H. Juanda langsung disambut rentetan kendaraan yang ga kelihatan ujung-pangkalnya. Kata arek Suroboyo, MUACET puoll ngambek. Dan mungkin terasa lebih karena jalannya yang sempit kali yah. Mirip-mirip sama Bandung sih. Balik dari Rumah Sakit kami coba jalan kaki karena ga ada angkot dan taxi yang seliweran taxi abal-abal yang ga mau pake argo, tapi nembaknya (tarif) suka-suka hati banget. Sampai setengah jalan akhirnya kami – ehm, saya – menyerah takut makin kering tenggorokan, takut kenapa-napa kan puasanya pipi memerah. Kami memutuskan naik becak, asiik semiliiir. Entah sudah berapa lama juga ga naik becak. Tapi bahkan setelah hampir sampai pun si bapak becak mulai menyerah sama macetnya. Akhirnya kami memilih turun dan jalan kaki karena lebih cepat dari semua kendaraan yang berhenti total disitu menjulurkan lidah

Wednesday, 18 July 2012

Menjelajah Pulau Tidung Kepulauan Seribu (Day 2)

Kami bangun keesokan hari dengan rasa yang ga jelas gara-gara pose tidur gaya lilin dan gaya lipat kaki. Ada pula yang 'kreatif' tau-tau diare, katanya sih kemungkinan karena BBQ semalam, entah makanan yang ga bersih atau dianya yang ga bersih. Hahaha.. (Okay, cerita yang ini diminta langsung sama si pengidap diare, si Lulu ). Meskipun tidur setengah-setengah, toh akhirnya kami bangun juga untuk sholat Subuh dan kemudian dengan tampilan seadanya dan nyawa yang masih kurang-kurang langsung berangkat ke Pantai dengan sepeda. Oia, di Pulau Tidung ini alat transportasinya sepeda motor, becak, dan sepeda. Selama saya disana belum pernah lihat ada mobil, sebenernya saya ga yakin juga apa cukup jalannya? Sedangkan sepeda di sini bagaikan sepeda motor di Surabaya – jadi semacam alat transportasi utama. Banyak persewaan sepeda bagi pengunjung untuk berkeliling pulau atau kalau seperti kami yang ikut dengan travel, persewaan sepeda sudah termasuk dalam paket.

jembatan Cinta
Begitu sepeda dikayuh, hmmm.. ga ada ngantuk lagi. Angin sepoi-sepoi pagi, pemandangan ke laut, semuanya bener-bener bikin semangat. Beda sekali dengan siang hari yang panasnya bisa jadi pengering kilat jemuran (ya sih, pantai di sekeliling.. mehehe). Kami menuju pantai lokasi Jembatan Cinta. Saya sendiri ga begitu mengerti kenapa dinamakan begitu, karena saya ga melihat ada bentuk-bentuk serupa hati atau semacamnya atau entah ada cerita apa dibaliknya. Jembatan ini menghubungkan Pulau Tidung Besar dengan Pulau Tidung Kecil. Di pangkal jembatan memang agak ngeri, banyak yang rusak bolong-bolong. Ga banyak yang berani melewati bagian itu. Padahal kalau ga terlewati otomatis ga bakal bisa jalan ke sepanjang Jembatan Cinta dan sampai ke Pulau Tidung Kecil. Hhehe.. sayang banget. Di bawah jembatan, terumbu karang, ikan, dan isinya bisa terlihat dengan jelas. Airnya jernih banget! (ʃƪ´`)


Monday, 9 July 2012

Menjelajah Pulau Tidung Kepulauan Seribu (Day 1)

Sepenggal cerita kebersamaan Cibulers 
menjamah Pulau Tidung di akhir Juni..

Perjalanan ke Pulau Tidung kali ini memang bukan perjalanan murni backpacking mengingat perjalanannya bersama dengan serombongan (lumayan besar) teman-teman yang membawa temannya, pacar, atau bahkan anaknya. Kami memutuskan untuk melakukan perjalanan melalui salah satu travel dari sekian banyak travel agency yang menawarkan liburan ke Pulau Tidung Kepulauan Seribu. Selain harga yang kami hitung-hitung tidak jauh berbeda dengan berangkat secara mandiri, kami juga mempertimbangkan fasilitas yang ditawarkan. Dan satu hal yang paling menarik perhatian kami adalah adanya tawaran underwater photo. Hhoho *jogetkayangdilaut*.

Muara Angke
Rencana awal keberangkatan kami dari Muara Angke pukul 07.00, tapi tiba-tiba ada pengumuman mendadak H-sekian yang memaksa kami untuk menumpang kapal jam 10.00. Ga apa-apa lah, karena jadwal pulang jadi mundur juga untuk mengganti waktu yang ‘hilang’.

Yang sudah pernah ke Pelabuhan Muara Angke pasti hafal deh sambutannya. Bukan welcome drink atau tarian hula-hula ala nelayan. Tapi bau amis yang menyengat sampai ubun-ubun. Hhe, saya memang paling ga tahan sama bau-bauan yang ‘unik’ begini. Kami mengunggu beberapa saat di pom bensin pelabuhan yang ternyata memang menjadi semacam waiting room bagi para pelancong yang akan berangkat ke Kepulauan Seribu. Kapal agak terlambat – ternyata macet Jakarta bukan hanya di darat – dan panasnya minta ampun secara di tepi laut ya.


Antara Kreatif dan Masa Kecil Kurang Bahagia 

Wednesday, 13 June 2012

Galeri Nasional - Raden Saleh Exhibition

Picture Taken from here
Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, dalam rangka bosan nge-mall, weekend berikutnya saya habiskan waktu ke tempat wisata non-mall (lagi). Kali ini giliran Galeri Nasional, tujuan yang tertunda. Ternyata ga ada ruginya weekend kemarin tertunda datang kesini, untung malah, karena ternyata tepat saat saya dan teman berkunjung, ada pembukaan Raden Saleh Exhibition. Pameran ini berlangsung 2 minggu, 3-17 Juni 2012, dengan tema Raden Saleh dan Awal Seni Lukis Modern Indonesia (Bagi yang pengen nonton silahkan, masih ada beberapa hari lagi big grin).

Seperti biasa, saya pergi dengan memanfaatkan busway yang sudah susah-susah disediakan oleh Pemerintah. Hhe.. Tapi alih-alih berangkat dari Shelter Al-Azhar di Koridor 1, kali ini saya berangkat dari pangkalnya, Shelter Blok M. Tapi ternyata pilihan kali ini salah. Rameeenya berasa antri sembako gratis whew!. Galeri Nasional terletak di seberang sisi barat Museum Nasional, tetapi ditengahnya dipisahkan oleh Monumen Nasional (Monas). Naik busway, dari Shellter Blok M langsung menuju ke Shelter Gambir 2. Turun dari Shelter Gambir 2 masuk menuju pintu keluar masuk Stasiun Gambir lalu tinggal menyeberang jalan.

Peta Lokasi Galeri Nasional Indonesia

Monday, 11 June 2012

Weekend at the Museum – Museum Nasional

Ada yang suka ke museum atau galery? Ada yang suka atau.. at least pernah pergi ke tempat wisata lain di Jakarta selain wisata mall.
 

Hm.. mungkin sebagian besar lebih suka jalan-jalan ke mall. Hhe.. Saya sendiri, meskipun tetap suka dengan mall dan sejenisnya, hal-hal dan tempat-tempat yang berbau seni juga ga kalah doyan. Beberpa minggu lalu saya menyempatkan diri berdua dengan mas-weekend-partner yang sesama pecinta seni pergi ke Museum Nasional kemudian weekend berikutnya lanjut ke Galeri Nasional. Ini dalam rangka bosan wisata mall. Tsah, gaya banget *pasangkacamataitem*

Okay, cerita pertama tentang Museum Nasional. Saya dan teman saya pergi sebelum siang dengan busway dari Shelter Al-Azhar di Koridor 1 menuju ke Shelter Monas, yang kebetulan ada di Koridor 1 juga. Jadi ga perlu transit kemana-mana. Untuk saat weekend, hari itu termasuk lengang, baik jalanan Kota jakarta, shelter, dan busway. Sebenarnya rencana waktu itu adalah ke Galeri Nasional, tetapi karena belum tahu posisi tepatnya, akhirnya kami memutuskan ganti tujuan seketika ketika melihat bangunan Museum Nasional.

Peta Lokasi Museum Nasional